tatta karima

Aku

  • Aku

Datang lagi

  • ▼  2013 (3)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)
    • ▼  April (1)
      • <!--[if gte mso 9]> Normal 0 ...

Mau tau ??

Foto Saya
tatta karima
cipinang muara, DKI Jakarta, Indonesia
Lihat profil lengkapku

Followers

Kamis, 18 April 2013

Akhir Kisah itu..


Ketika benar sungguh ia mengetahui tentang takdir yang telah ia alami dan ia rajutkan mimpi ia didalamnya. Memang perih ketika peluh itu menetes tepat di libakan lukanya, serasa hancur raga selena selendang yang selalu terkalung di lehernya. Panggil saja ia Mirata.
Mungkin hanya dera caci apabila orang mengetahui apa yang ia rasakan, penyakit yang tak usang semakin menggerogoti hatinya. Tiada ragu dan gundah menyapa senyumannya di ujung mentari yang menyingkap tabir dibalik lukanya.
Detik pun telah meruncing, kini lembaran tua usang itu telah melapuk, doa yang selalu terlantun di kidung sujudnya tak segera menjawab atas sisa umurnya.
Wajah senyum belianya selalu menutupi duka luka yang sesungguhnya tertancap di pelupuk khayalannya.  Kini ia tepat berumur lima belas tahun, bukan usia matang yang pantas menerima cobaan seberat itu.
Telah banyak impian dan khayalan yang ia haturkan kepada sang muqsit, namun apa daya tangan tak mampu menyelibakkan sayap untuk terbang menikam harapan pudar itu.

Pagi itu ada sebuah kisah tentang durjana dan algojo yang menanti di langkahnya tepat di depan pintu gerbangnya. Dddrrrrrrreeeekkk, ia pun membuka pintu dengan perlahan, tak ingin ia bangunkan mama papa yang masih terlelap dalam buah tidur mereka. Dengan langkah tertatih ia tapakkan perlahan kakinya menuju pemakaman nenek tersayang. Ia hanya ingin berbagi rajutan kisah bersama neneknya yang telah terdiam dalam liang lahat.

       “ Nek, kini cucu kecilmu ini sudah merekah menjadi dewasa, Mirata rindu dekap hangat nenek yang lalu tak pernah absen mengalungkan rajutan syal indah untukku. Kini Mirata ingin mencumbu kisah lama itu dengan nenek. Tapi mirata tahu, kupu kelam itu tak mampu lagi menggelayuti kisah lama kita. Nek, air Mata itu enggan menetes ketika Mirata nyenyak dalam dekap hangat nenek ,“ begitulah yang ia katakan kepada neneknya yang telah tiada. Mirata, ya benar Mirata, ia menyesali ketika ia belum sempat mengabulkan harapan neneknya yang ingin melihatnya berhasil menjadi istri yang khasanah bagi sang suami tercinta.
         Beberibu detik lamanya ia menelaah kisah di pemakaman sang nenek, hujan mendera. Buliran-buliran air hujan mulai menyelimuti tubuhnya.
Benar kini waktunya sang mentari tenggelam, dan esok menggantikan buratan badai dan mendung menjadi milyaran pelangi dengan beribu macam warna kisah hidupnya.
Setibanya ia di rumah, kembali ia tertidur, dan tak sangka tak duga, itulah waktu terakhir ia melihat mentari.
Sunyum terkhirnya menutup kisah dalam kematian hangatnya.


Diposting oleh tatta karima di 20.39
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

0 komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru
Langganan: Posting Komentar (Atom)
@ 2011 tatta karima; Many thanks to: Blogger Templates / blog Design Company / SEO / free template Blog